USB, FireWire, atau SCSI?

•March 6, 2009 • Leave a Comment

Meskipun repot dan mahal, kadang beberapa konsumen menganggap perlu untuk menambah koneksinya. Namun, di antara koneksi yang ada mana yang lebih baik? USB, FireWire, atau SCSI?
Pada saat akan membeli sebuah produk seperti printer, kamera, atau bahkan sebuah perangkat lain yang jauh lebih sederhana, kita kerap kali bertanya: “Koneksi apa yang digunakan? USB atau FireWire?” Atau tidak jarang juga timbul pertanyaan-pertanyaan: sebenarnya apa bedanya antara USB dan FireWire? Mengapa semua komponen tidak menggunakan koneksi yang sama saja? Bukankah dengan demikian konsumen tidak akan dibingungkan lagi.
Bahkan sekarang pilihan yang ada lebih bervariasi lagi. Karena setiap koneksi bisa memiliki lebih dari satu versi yang berbeda. Pada USB dan FireWire mungkin tidak terlalu riskan, karena keduanya hanya memiliki dua versi saja, Yaitu USB 1.1 dan USB 2.0 serta FireWire a dan FireWire B. Namun, lain halnya dengan SCSI yang memiliki lebih dari lima versi. Ada, SCSI Wide Ultra2 SCSI Ultra3 dan masih ada beberapa lagi. Selain versi, pin pun beragam. Beragamnya bentuk pin biasanya dipengaruhi, baik dari versi transmisi (misalnya pada SCSI) atau dapat juga dipengaruhi dari perangkat yang digunakan. Contohnya saja konektor USB pada kamera digital dengan konektor USB pada MP3 Player berbeda.

Untuk membeli produk tertentu, kita memang tidak dapat sembarang beli, melainkan kita harus mencocokkannya dengan apa yang sudah dimiliki oleh komputer. Meskipun tidak jarang juga seseorang akan dengan sengaja menambahkan koneksi baru agar mendapatkan transmisi yang lebih cepat.

Salah satu yang menjadi pilihan selain USB dan FireWire adalah SCSI. Jika untuk komputer personal, kehadiran SCSI menjadi pilihan yang masih dapat ditawar. Lain halnya pada server atau komputer-komputer yang membutuhkan akses data yang cepat, maka kehadiran SCSI dianggap salah satu syarat.

Mana yang lebih baik USB, FireWire, atau SCSI? Pertanyaan yang benar bukan mana yang lebih baik, tapi mana yang paling tepat untuk kebutuhan Anda. Sebab setiap koneksi tidak hanya berbeda dalam hal biaya dan kecepatan saja. Ketiga koneksi yang disebutkan
tadi juga memiliki karakter yang berbeda-beda satu sama lain. Oleh sebab itu, Anda harus jeli menelaah aplikasi yang akan digunakan sebelum memutuskan membelinya.

USB
Ketersediaan port USB sudah menjadi umum pada hampir seluruh komputer ataupun notebook keluaran tahun ini. Biasanya setiap komputer memiliki dua sampai empat port USB.

USB kali pertama dikembangkan untuk menggantikan port serial pada Mac dan port parallel pada PC. Meskipun kenyataannya, pada PC saat ini USB tidak hanya menggantikan port parallel saja melainkan juga serial. Lihat saja kini sudah banyak mouse, keyboard, gamepad, atau PDA yang biasanya menggunakan port serial kini juga menggunakan port USB.

Awalnya USB yang diperkenalkan adalah USB 1.1, namun sekarang USB sudah berkembang menjadi USB 2.0. Walaupun kehadiran USB 2.0 sudah banyak melengkapi berbagai komputer dan notebook, bukan berarti USB 1.1 tidak lagi beredar. Saat ini, masih banyak beberapa produk atau komputer yang masih menggunakan USB 1.1.

Setiap sebuah kabel USB di dalamnya terdapat empat kawat kabel kecil. masing-masing berwarna merah, cokelat, kuning, dan biru. Merah untuk menghantarkan tegangan 5 Volt, cokelat untuk Ground, dan kuning-biru untuk mengirimkan data. Secara fisik bentuk konektor ada dua macam. Yang pertama disebut konektor A dan yang satu lagi disebut konektor B. Bila alat yang digunakan memiliki USB yang terpasang secara permanen, maka yang akan terhubung ke komputerlah dinamakan konektor A. Sedangkan bila alat menggunakan kabel terpisah, maka konektor yang terhubung pada alat dinamakan konektor B.

Pada USB, Anda lebih bebas memasang alat dibandingkan dengan serial atau parallel biasa. Sebab dengan USB, Anda dapat memasang alat dengan cara plug n play tanpa harus proses deteksi terlebih dahulu. Dan proses instalasi pun tidak dapat berjalan lebih mudah.

Kecepatan USB juga masih lebih baik dibandingkan dengan koneksi serial dan parallel. USB yang pertama (USB 1.1) memiliki kecepatan 1,5 MBps dan 12 MBps. Sedangkan USB dua memiliki kecapatan 20 kali lebih cepat dari USB 1.1, yaitu 480 MBps (sama dengan 60 MBps). Memang lebih cepat dari paralel biasa, namun tetap saja tidak lebih cepat dibandingkan FireWire b (100 MBps=800 MBps)) atau SCSI Ultra3 (160 MBps=1280 MBps).

Sekarang yang banyak beredar dipasaran adalah USB 2.0. Namun bukan berarti USB 1.1 ditinggalkan. USB ini masih tetap ada. Anda juga tidak perlu takut terhadap kompatibilitasnya bila menggunakan USB berbeda versi. Sebab keduanya tetap dapat berhubungan hanya saja kecepatannya akan mengikuti yang terendah.

Tidak hanya kecepatan yang menjadi kelebihan USB. Dengan sebuah konektor USB, Anda dapat menghubungkan 127 alat sekaligus. Yaitu dengan menggunakan alat yang dinamakan USB Hub. Biasanya satu USB Hub minimal memiliki empat koneksi. Namun salah satu yang menjadi kelemahannya adalah, hal ini akan membuat degradasi kecepatan pada koneksi.

Hub itu sendiri terbagi dua jenis, yang pertama adalah yang membutuhkan listrik sendiri atau yang disebut juga powered hub. Yang kedua adalah hub yang tidak menggunakan listrik atau disebut juga unpowered hub. Dalam memilih hub, yang perlu diperhatikan adalah alat yang akan dihubungkan. Bila alat tersbeut telah terhubung pada listrik seperti printer atau kamera yang menggunakan baterai, maka Anda dapat menggunakan unpowered hub. Tetapi apabila alat tersebut tidak terhubung pada listrik seperti mouse, harddisk eksternal, maka Anda dapat menggunakan powered hub. Sebab jarak yang terlalu jauh antara alat dengan komputer akan mengakibatkan alat tidak mendapatkan asupan listrik.

Dengan USB, jarak koneksi dapat lebih panjang dari parallel, yaitu dapat mencapai 30 meter dengan bantuan repeater. Bila tidak menggunakan repeater, maka setiap kabel mampu mengirim data sejauh 5 meter.

Jenis koneksi sebenarnya ada beberapa macam, yaitu Interrupt, Bulk, dan Isochronous.

Yang dimaksud dengan Interrupt adalah sejenis mouse atau keyboard. Data yang dikirimkan oleh peralatan ini sangat kecil dan datang di tengahtengah aplikasi yang sedang berjalan.

Lain halnya dengan Bulk. Data yang dikirimkan oleh Bulk lebih besar dan tidak terkirim secara tiba-tiba atau ditengah aplikasi yang sedang berjalan. Salah satu contohnya adalah printer.

Sedangkan yang dimaksud dengan Isochronous adalah data yang terkirim secara terus menerus atau yang disebut juga data streaming. Salah satu contoh Isochronous adalah speaker.

Untuk keperluan dua hal yang pertama USB memang sangat tepat, namun untuk keperluan yang ketiga yaitu Isochronous agak sedikit sulit. Apalagi jika data tersebut termasuk jenis true isochronous, akan lebih sulit lagi.

FireWire
Bila USB memiliki kelemahan dalam melakukan komunikasi data streaming atau Isochronous, tidak halnya dengan FireWire. FireWire kali pertama dikembangkan untuk memberikan kecepatan yang lebih baik dari USB.

FireWire yang pertama (FireWire a/FireWire 400) memiliki kecepatan 400 MBps, jauh lebih besar dari USB 1.1, namun bukan berarti juga lebih lamban dari USB 2.0. Ada beberapa pengujian yang dilakukan antara USB 2.0 dengan FireWire a dalam memindahkan data dari sebuah harddisk, baik dengan tipe dan pada komputer yang sama. Pada pengujian tersebut diketahui bahwa FireWire a dapat membaca, sekaligus menulis lebih cepat dari USB 2.0. Ada dua situs yang dapat Anda kunjungi mengenai hal ini, yaitu www.usbware.com/FireWire-vs-usb.htm dan www.barefeats.com/usb2.html.

FireWire b atau disebut juga FireWire 800 memiliki kecepatan dua kali dari versi sebelumnya, yaitu 800 MBps atau sama dengan 100 MBps. FireWire ini jauh lebih cepat dibandingkan USB 2.0, namun masih lebih jauh jika dibandingkan SCSI Ultra3. FireWire 800 memiliki nilai kecepatan yang sama dengan SCSI Wide Ultra2.

Namun, ternyata tidak hanya kecepatan saja yang lebih unggul dari USB, FireWire dapat menangani transmisi data Isochronous dengan sangat baik. Oleh sebab itu, FireWire banyak digunakan untuk transmisi perangkat multimedia.

Meskipun kecepatan dan transmisi yang dimiliki oleh FireWire lebih baik, bukan berarti FireWire lebih unggul dari USB. Ada beberapa hal yang menjadi kelemahan FireWire. Misalnya saja jumlah perangkat yang dapat terhubung dengan FireWire tidak sebanyak USB. FireWire hanya memungkinkan 63 perangkat terhubung. Namun, setiap perangkat yang terhubung oleh sebuah FireWire dapat langsung digunakan oleh dua komputer/MAC sekaligus.

Berbeda dengan USB yang bersifat host base, FireWire bersifat peer to peer. Artinya, setiap peralatan dapat terhubung satu sama lain tanpa adanya bantuan dari komputer. Misalnya, dua buah kamera yang saling terhubung satu sama lain dnegan bantuan kabel Fire-Wire. Hal ini berbeda dengan USB yang setiap alat harus terhubung pada komputer untuk dapat terkoneksi.

Dan kelemahan lain dari FireWire adalah diperlukannya alat tambahan berupa kartu FireWire untuk dapat menghubungkannya. Hal ini tentu saja menuntut dana yang lebih besar dibanding Anda menggunakan USB. Namun jika memang alat yang dimiliki membutuhkan kecepatan tinggi dan transmisi yang lebih konstan, maka FireWire patut menjadi opsi yang perlu dipertimbangkan.

SCSI
Jika Anda merasa USB dan FireWire masih kurang cepat, cobalah tengok SCSI (small computer system interface). SCSI adalah yang tercepat di antara ketiganya. Karena SCSI mampu mengeksekusi pekerjaan lebih efisien dibandingkan interface lain.

Seperti halnya FireWire, SCSI juga memerlukan kartu tambahan sebagai kontrol. Namun dari segi harga, SCSI jauh dibandingkan USB ataupun FireWire. Untuk sebuah kartu FireWire 400, Anda dapat membeli dengan harga kurang dari Rp300 ribu. Sedangkan harga sebuah kartu SCSI mulai dari Rp300 ribu lebih sampai jutaan rupiah.

Memilih SCSI juga tidak semudah memilih USB atau FireWire. SCSI ada berbagai jenisnya. Masing-masing jenis berbeda kecepatan maupun jumlah pin, sehingga dalam membelinya nanti diperlukan kehati-hatian.

SCSI merupakan perangkat multithreading, kecepatannya tidak akan menurun seiring dengan jumlah device atau perangkat disambungkan kepadanya.

Kecepatan, fleksibilitas, dan biaya membuat SCSI tidak umum dipergunakan untuk kepentingan personal. Sebagian besar menggunakan SCSI untuk digunakan pada perangkat yang memang membutuhkan kecepatan dan kinerja yang andal. Contohnya seperti harddisk dan perangkat back-up. Dan biasanya yang menggunakan bukanlah komputer personal namun server. Tetapi sebagian perangkat grafis yang membutuhkan kecepatan dan bandwidth besar juga ada yang menggunakan SCSI sebagai interface-nya. Contohnya, scanner dan printer berukuran besar atau terkoneksi pada jaringan yang sibuk.

Sama dengan FireWire, SCSI kali pertama diperkenalkan oleh Apple sebagai interface tambahan pada MAC. Namun akhirnya, SCSI berkembang dan dapat dipergunakan pada semua operating system.

SCSI yang pertama dinamakan SCSI-1 dengan kecepatan 40 MBps dan jarak maksimal 6 meter, SCSI ini mampu menampung hanya delapan devices sekaligus. Kemudian versi keduanya SCSI-2 atau yang dikenal dengan “SCSI biasa” memiliki kecepatan yang dapat ditingkatkan sampai 80 MBps dan jumlah device pun dapat ditambahkan sampai dua kali lipat SCSI-1.

SCSI terus berkembang, sejak pertama diperkenalkan yaitu tahun 1981, kini SCSI sudah tersedia dalam sembilan varian. Yang tercepat adalah SCSI yang terakhir diluncurkan yaitu SCSI Ultra3, yang memiliki kecepatan 160 MBps (sama dengan 1280 MBps) dengan jarak tempuh maksimal 12 meter dan device yang terhubung 16 buah. Ultra3 juga dilengkapi dengan Cyclical Redundancy Checking (CRC) untuk memastikan integritas data yang ditransfer serta untuk validasi jaringan.

Dalam menggunakan SCSI, setiap device yang terhubung harus memiliki ID masing-masing. Pemberian ID ini dapat dilakukan dengan bantuan software tambahan khusus untuk mengontrol SCSI device yang digunakan. Setiap device yang terhubung akan dikurangi satu. Karena kartu SCSI itu sendiri akan ikut dihitung. Misalnya saja Ultra3 yang memiliki kemampuan menampung 16 device, maka pada kenyataannya ia hanya akan menampung 15 device saja. Sebab satu ID device-nya akan digunakan untuk kartu SCSI sebagai alat kontrol.

Jika dibandingkan FireWire jarak dan device yang dapat terhubung, SCSI tertinggal jauh. Namun, untuk kecepatan dan kestabilan masih lebih baik SCSI. Meskipun dari segi harga lebih mahal.

Mana yang akan dipilih? Sebaiknya lihat kembali apa yang akan dilakukan. Jika aplikasi Anda memiliki karakter Isochronous, maka gunakan FireWire. Atau bila hanya sekadar perangkat sederhana seperti mouse, keyboard, atau flash disk, gunakan saja USB. Namun bila perangkat tersebut adalah ruang backup, terhubung ke jaringan yang sibuk, atau memang membutuhkan transmisi yang sangat stabil, sebaiknya Anda memilih SCSI.
(IT Staf)

mengatasi hepatitis dengan herbal

•December 7, 2008 • Leave a Comment

Hepatitis merupakan suatu proses peradangan pada jaringan hati. Hepatitis dalam bahasa awam sering juga disebut dengan istilah lever atau sakit kuning. Padahal definisi lever itu sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Belanda yang berarti organ hati, bukan penyakit hati. Namun asumsi yang berkembang dalam masyarakat mendefinisikan lever adalah penyakit radang hati. Sedangkan istilah sakit kuning sebenarnya dapat menimbulkan kerancuan, karena tidak semua sakit kuning disebabkan oleh radang hati, tetapi dapat juga karena ada peradangan pada kantung empedu.
Peradangan hati dapat disebabkan oleh infeksi berbagai mikroorganisme seperti virus, bakteri, dan protozoa. Namun pada umumnya disebabkan oleh virus (hepatitis virus). Radang hati juga dapat terjadi akibat bahan-bahan kimia yang meracuni hati, obat-obatan, dan alkohol, yang disebut juga dengan hepatitis non-virus. Hepatitis akibat obat-obatan hanya menyerang orang yang sensitif.
Pada umumnya hepatitis virus akut mempunyai gejala-gejala sebagai berikut :
- Tingkat awal merasa cepat lelah, tidak napsu makan, sakit kepala, pegal-pegal di seluruh badan, lemah, mual, dan kadang disertai muntah, dan selanjutnya demam.
- Fase kuning (ikterik) : ditandai dengan urin berwarna kuning kehitaman seperti air teh dan feses berwarna hitam kemerahan. Bagian putih dari bola mata, langit-langit mulut dan kulit menjadi berwarna kekuning-kuningan. Fase ini berlangsung kurang lebih selama 2-3 minggu;
- Fase penyembuhan : ditandai dengan berkurangnya gejala dan warna kuning menghilang. Umumnya penyembuhan sempurna memerlukan waktu sekitar 6 bulan .
Tidak semua penderita hepatitis menunjukan gejala seperti di atas, ada juga yang tidak menunjukan warna kuning. Selain melihat gejala klinis diperlukan juga pemeriksaan laboratorium seperti SGOT, SGPT, bilirubin, dan asam empedu.
Hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus menyebabkan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada umumnya, sel-sel hati dapat tumbuh kembali dengan sisa sedikit kerusakan, tetapi penyembuhannya memerlukan waktu berbulan-bulan dengan diet dan istirahat yang baik. Hepatitis virus dibagi menjadi 5 berdasarkan jenis virus penyebabnya, yaitu : virus hepatitis A (VHA), B (VHB), C (VHC), D (VHD), dan E (VHE). Hepatitis virus dapat menjadi kronis dan bisa berlanjut menjadi sirosis hati dan kanker hati.
1. Hepatitis A
Hepatitis A lebih banyak diderita oleh anak-anak dan orang muda. Disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A, pada umumnya menular melalui makanan/minuman yang terkontaminasi oleh feses penderita, bisa juga melalui konsumsi kerang yang terkontaminasi virus. Penyakit ini jarang menjadi kronis. Gejala yang timbul ringan dan tidak selalu timbul fase kuning/ikterik. Langkah pencegahannya, yaitu :
- cuci tangan setelah dari toilet, sebelum makan dan sebelum menyiapkan makanan;
- disarankan tidak makan dengan menggunakan alat-alat makan secara – bergantian atau memakai sikat gigi bersama-sama;
- memperhatikan kebersihan lingkungan dan sanitasi ;
- Imunisasi
2. Hepatitis B
Hepatitis B merupakan bentuk hepatitis yang lebih serius dibandingkan dengan jenis hepatitis lainnya. Penularannya melalui transfusi darah, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, alat tato, hubungan seksual, air liur, feses, juga dapat ditularkan dari ibu kepada bayi yang baru dilahirkannya. Hepatitis virus yang akut dapat sembuh dengan sendirinya, namun sejumlah besar penderita hepatitis B akan menjadi kronis. Semakin muda usis terinfeksi virus hepatitis B semakin besar kemungkinan menjadi kronis. Hepatitis kronis akan meningkatkan risiko terjadinya sirosis dan hepatoma (kanker hati) di kemudian hari. Upaya pencegahan terhadap hepatitis B, antara lain yaitu :
Imunisasi hepatitis B
- hindarkan pemakaian jarum suntik bekas, dan peralatan tato yang tidak steril.
- Hindarkan pemakaian bersama sikat gigi, pisau cukur dan alat lainnya yang dapat menimbulkan luka.
- Penderita hepatitis B dilarang minum alkohol untuk mencegah rangsangan selanjutnya pada hati.
3. Hepatitis C
Pada hepatitis C sebagian besar penderitanya berlanjut menjadi hepatitis kronis. Seperti halnya hepatitis B kronis, hepatitis C yang kronis juga akan berkembang menjadi sirosis hati dan dapat berpotensi menjadi hepatoma. Sebagian besar penderita hepatitis C tidak menunjukan gejala. Seperti halnya hepatitis B, penularan hepatitis C umumnya terjadi melalui transfusi darah, selain itu mungkin juga melalui hubungan seksual, penggunaan sikat gigi secara bersamaan, dan dari ibu pengidap hepatitis C kepada bayinya.
4. Hepatitis D
Virus hepatitis D hanya dapat ditemukan pada penderita hepatitis B, karena untuk hidupnya memerlukan virus pembantu yaitu virus hepatitis B. Upaya pencegahan terhadap hepatitis B secara tidak langsung juga mencegah hepatitis D.
5. Hepatitis E
Tipe penularannya sama dengan virus hepatitis A yaitu melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh feses. Infeksi virus hepatitis E terutama terjadi di daerah yang tingkat kesehatan dan sanitasinya buruk, dan lebih banyak diderita oleh anak-anak dan wanita hamil.
Tumbuhan Obat untuk Hepatitis
Tumbuhan obat/herbal yang dapat digunakan untuk mencegah dan membantu pengobatan hepatitis diantaranya mempunyai efek sebagai hepatoprotektor yaitu melindungi hati dari pengaruh zat toksik yang dapat merusak sel hati, juga bersifat antiradang, kolagogum dan khloretik yaitu meningkatkan produksi empedu oleh hati.
Beberapa jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk pengobatan hepatitis, antara lain yaitu temulawak (Curcuma xanthorrhiza ), kunyit (Curcuma longa), sambiloto (Andrographis paniculata), meniran (Phyllanthus urinaria), daun serut/mirten, jamur kayu/lingzhi (Ganoderma lucidum), akar alang-alang (Imperata cyllindrica), rumput mutiara (Hedyotis corymbosa), pegagan (Centella asiatica), buah kacapiring (Gardenia augusta), buah mengkudu (Morinda citrifolia), jombang (Taraxacum officinale).
Berikut contoh beberapa resep herbal untuk membantu pengobatan hepatitis.
Resep 1.
30 gram temu lawak (dikupas dan diris-iris) + 15 gram sambiloto kering + 60 gram akar alang-alang. Semua dicuci, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
Resep 2.
30-60 gram daun serut/mirten segar + 60 gram pegagan + 30 gram meniran. Semua dicuci, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
Resep 3.
10 gram jamur kayu/lingzhi + 10 gram biji kacapiring (zhi zi), keduanya dicuci, direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari. (kedua bahan dapat dibeli di toko obat Tionghoa)
Resep 4.
60 gram rumput mutiara atau rumput lidah ular segar + 30 gram tumbuhan jombang segar + 25 gram kunyit. dicuci bersih, direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari.
Catatan :
- pilih salah satu resep dan lakukan secara teratur
- tetap konsultasi ke dokter
- untuk perebusan, gunakan periuk tanah, panci kaca atau enamel.
Sumber : Hembing

Hepatitis pada kehamilan

•December 7, 2008 • Leave a Comment

Hepatitis dan penyakit hati lain yang terjadi selama kehamilan harus menjadi perhatian karena dapat menimbukan masalah kesehatan serius, baik bagi ibu maupun bayi. Secara umum, penyakit hati dalam kehamilan dapat terjadi dalam 3 bentuk berikut:
1. Penyakit hati yang dicetuskan oleh kehamilan, seperti perlemakan hati akut, hiperemesis gravidarum (muntah yang berlebihan pada kehamilan muda), dan sindrom HELLP;
2. Penyakit hati yang terjadi selama kehamilan dan tidak berhubungan dengan kehamilannya, seperti hepatitis virus akut, infeksi dan batu di kandung empedu;
3. Kehamilan yang terjadi pada orang yang telah mengalami penyakit hati kronik (yang sudah lama) sebelumnya, seperti hepatitis kronik.

Pada tulisan ini, akan dibahas hepatitis virus –sebagai salah satu penyakit hati yang paling sering terjadi– pada kehamilan. Hepatitis virus pada kehamilan dapat menimbulkan dampak kesehatan yang besar baik bagi ibu maupun janin yang dikandungnya.

Apa itu hepatitis
Sebelum membahas dampak hepatitis virus terhadap kehamilan, akan diulas terlebih dahulu secara singkat apa itu hepatitis serta apa saja yang dapat terjadi ketika seorang mengidap hepatitis. Hepatitis merupakan suatu istilah umum untuk terjadinya peradangan pada sel-sel hati. Hepatitis dapat disebabkan oleh kondisi non-infeksi seperti obat-obatan, alkohol, dan penyakit autoimun, atau oleh adanya infeksi seperti hepatitis virus.
Hepatitis virus terjadi bila virus hepatitis masuk ke dalam tubuh dan kemudian merusak sel-sel hati. Cara masuknya virus hepatitis ke dalam tubuh bisa bermacam-macam, namun yang paling sering adalah melalui makanan dan minuman (hepatitis virus A dan E), atau melalui cairan tubuh misalnya melalui transfusi darah, suntikan, atau hubungan seksual (hepatitis virus B, C, dan D).
Ketika virus hepatitis masuk ke dalam tubuh maka akan timbul berbagai gejala, mulai dari yang ringan (bahkan tanpa gejala) sampai yang berat. Gejala yang dapat muncul akibat infeksi virus hepatitis diantaranya demam, nyeri otot, gejala-gejala mirip flu (flu-like syndrome), mual atau muntah, serta nyeri perut, yang kemudian akan diikuti mata atau kulit berwarna kuning, serta buang air kecil akan berwarna kecoklatan. Pada sebagian besar pasien, gejala-gejala tersebut akan membaik dengan sendirinya dan akan hilang sama sekali setelah 4-6 minggu, sementara sebagian kecil pasien keluhan-keluhan itu akan semakin memberat sehingga memerlukan perawatan yang khusus. Kondisi sakit seperti yang disebutkan di atas disebut sebagai hepatitis virus akut.
Bila infeksi hepatitis virus akut itu disebabkan oleh virus hepatitis A dan E, maka umumnya pasien akan sembuh total dan penyakitnya tidak berlanjut menjadi kronik. Hepatitis virus kronik dapat terjadi pada sebagian pasien yang mengalami infeksi hepatitis virus akut B, C, atau D. Seseorang dikatakan menderita hepatitis kronik bila virus hepatitis atau komponen-komponennya masih ada di dalam tubuh, dan secara perlahan tetap akan merusak sel-sel hati dan berpotensi untuk menularkan ke orang lain, walaupun gejala-gejala sudah menghilang dan secara fisik pasien sudah segar-bugar. Hepatitis kronik perlu mendapat perhatian khusus, karena penyakitnya bisa berlanjut menjadi sirosis hati (hati mengecil akibat sel-sel hati banyak yang digantikan jaringan parut) dan bahkan bisa menjadi kanker hati. Diperkirakan bahwa sekitar 10 hingga 30% dari pengidap hepatitis B dan C akan berkembang menjadi sirosis dan kanker hati. Baik sirosis atau kanker hati merupakan suatu kondisi akhir dari suatu penyakit hati kronik, dengan berbagai gejala dan komplikasi yang berat dan mengancam nyawa (seperti perdarahan saluran cerna, gagal hati, penurunan kesadaran, gangguan mekanisme pembekuan darah, infeksi di rongga perut yang penuh terisi cairan, sampai pada kematian).

Bagaimana bila hepatitis terjadi pada saat hamil
Sama seperti pada orang pada umumnya, seorang ibu yang hamil dapat berisiko mengalami hepatitis virus dan seseorang yang sudah mengalami hepatitis kronik dapat hamil. Semua jenis virus hepatitis dapat menginfeksi ibu hamil, dan dapat menimbulkan gejala hepatitis virus akut. Gejala dan tanda infeksi hepatitis virus akut yang terjadi pada kehamilan umumnya tidak banyak berbeda dengan mereka yang tidak hamil. Yang perlu dilakukan adalah memeriksakan diri ke dokter bila muncul gejala-gejala yang sudah disebutkan di atas tadi untuk memastikan apakah ini suatu hepatitis virus atau bukan, menentukan jenis virus apa yang menginfeksi, serta menentukan derajat kerusahan sel hati yang terjadi. Biasanya dokter akan menganjurkan perawatan di rumah sakit untuk memantau perkembangan penyakitnya, serta memastikan bahwa pasien cukup istirahat dan mendapat asupan makanan yang baik. Umumnya ibu hamil yang mengalami hepatitis virus akut akan sembuh dalam 4 sampai 6 minggu.
Menentukan jenis virus hepatitis apa yang menginfeksi merupakan hal penting, sebab seperti yang telah disebutkan di atas, bila virus hepatitis B dan C yang menginfeksi maka perlu dilakukan langkah-langkah lebih lanjut untuk mengantisipasi perkembangan penyakit lebih lanjut serta mencegah penularan penyakit ke janin atau bayi. Bila ibu hamil terinfeksi hepatitis virus B atau C, maka dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan lanjutan untuk menentukan apakah hepatitis virusnya dalam kondisi aktif dan menularkan ke orang lain atau tidak, termasuk ke janinnya.

Hello world!

•November 26, 2008 • Leave a Comment

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!